MADIUN, TENDENSIUS — Sekolah bukan sekadar gedung, seragam, daftar hadir, dan angka kelulusan. Ia dituntut terus bergerak mengikuti zaman. Sebab ketika perubahan melaju, sementara sekolah memilih diam di tempat, yang tertinggal bukan hanya inovasinya, tetapi juga relevansinya di tengah masyarakat.
Pesan itu mengemuka dalam Pengarahan dan Ceramah Umum Penguatan Kepemimpinan Pendidikan Bersama Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Generasi Emas 2045 di Aula SMKN 1 Madiun, Rabu (09/09/2026).
Kepala Dinas Pendidikan Jatim Aries Agung Paewai menegaskan, kepemimpinan pendidikan tidak cukup hanya sibuk membangun lingkungan internal sekolah. Dampak pendidikan harus keluar dari pagar sekolah dan benar-benar dirasakan masyarakat.
’’Pendidikan itu bukan hanya bagaimana lingkungan sekolah berkembang, tetapi masyarakat juga mengikuti dan mendapatkan manfaat yang besar,’’ ujarnya.
Aries mengingatkan, satu terobosan tidak boleh menjadi alasan sekolah berhenti berbenah. Inovasi harus terus berjalan agar layanan pendidikan tetap selaras dengan perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik.
’’Kalau tidak pernah berinovasi, produk itu tidak akan laku. Begitu juga sekolah. Sekolah tidak akan diminati masyarakat kalau tidak berinovasi,’’ tegasnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa sekolah tidak boleh terjebak pada zona nyaman. Ketika kebutuhan masyarakat berubah, dunia kerja berkembang dan teknologi bergerak cepat, pendidikan yang hanya mengandalkan pola lama berisiko kehilangan daya saing.
Aries menilai perkembangan SMA dan SMK di Jawa Timur secara umum cukup baik. Namun, ia mengakui masih terdapat satuan pendidikan yang perkembangannya relatif lambat.
Karena itu, inovasi harus berjalan beriringan dengan penguatan lingkungan belajar yang bersih dan nyaman, kualitas guru, serta kepemimpinan kepala sekolah.
Di tempat yang sama, Sekretaris Utama Lembaga Administrasi Negara (LAN) Andi Taufik menambahkan, kualitas pemimpin memiliki pengaruh terhadap kinerja tim hingga proses pembelajaran di sekolah.
Menurutnya, sejumlah sekolah di Jawa Timur bahkan telah melahirkan inovasi yang berpotensi menjadi role model nasional.
Salah satunya SMKN 1 Madiun, yang mengembangkan inovasi Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) terintegrasi dengan living laboratory. Inovasi tersebut menjadikan lingkungan sekolah bukan sekadar tempat belajar, tetapi sekaligus ruang pembelajaran yang nyata.
Namun, capaian tersebut tidak boleh berubah menjadi alasan untuk berhenti bertransformasi.
’’Kalau lingkungan internal berubah, dunia juga berubah secara global, sekolah harus dapat menyesuaikan kurikulum dan strategi pembelajarannya. Jadi, harus adaptif dan tidak boleh stuck,’’ jelas Andi.
Sebab pendidikan pada akhirnya bukan perlombaan mengumpulkan angka kelulusan. Kompetensi yang dibawa siswa setelah meninggalkan bangku sekolah harus mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus dunia kerja.
Andi menegaskan, keberhasilan pendidikan tidak cukup dilihat dari berapa banyak siswa yang berhasil menyelesaikan pendidikan.
’’Hasil pendidikan harus memberikan dampak dan hasil nyata, bukan hanya output berupa jumlah,’’ pungkasnya.
Sekolah boleh berdiri di tempat yang sama. Tetapi cara berpikir, kepemimpinan, pembelajaran, dan inovasinya tidak boleh berhenti di tempat. Sebab zaman terus bergerak dan pendidikan yang memilih diam berisiko ditinggalkan.


