JAWA TIMUR, TENDENSIUS – Penghitungan data SPMB Jatim 2026 menunjukkan pola yang menarik pada kuota SMA dan SMK negeri di Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Ngawi, Magetan dan Ponorogo. Meski berada dalam satu provinsi dan berada di bawah kewenangan yang sama, kapasitas rombongan belajar (rombel) antarwilayah ternyata tidak sepenuhnya seragam.
Data Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Jawa Timur 2026 memperlihatkan adanya variasi daya tampung SMA dan SMK negeri di wilayah Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Ngawi, Magetan, dan Ponorogo.
Pada jenjang SMA, sebagian besar sekolah menggunakan pola sekitar 35 siswa per rombongan belajar. Namun terdapat sekolah yang memiliki rata-rata lebih tinggi mendekati 36 siswa per kelas, sementara beberapa sekolah lain justru berada di bawah angka tersebut karena jumlah kuota tidak habis dibagi secara merata.
Di Kabupaten Magetan, sejumlah SMA seperti SMAN 1 Magetan dan SMAN 2 Magetan masing-masing memiliki kuota 350 siswa atau setara sekitar 10 rombel dengan rata-rata 35 siswa per kelas. Di Kabupaten Ngawi, SMAN 1 Widodaren menampung 432 siswa atau sekitar 12 rombel dengan rata-rata 36 siswa per rombel. Sementara Kabupaten Ponorogo memiliki sekolah dengan daya tampung terbesar mencapai 420 siswa, seperti SMAN 1 Ponorogo dan SMAN 3 Ponorogo.
Pada jenjang SMK, pola yang muncul lebih beragam. Banyak kompetensi keahlian memiliki kuota kelipatan 36 siswa, namun beberapa program keahlian menunjukkan angka 35 siswa per rombel. Variasi ini membuat rata-rata kapasitas per kelas antardaerah tidak sepenuhnya sama.
Kota Madiun, Kabupaten Madiun, Ngawi, Magetan, hingga Ponorogo sama-sama mengandalkan SMK sebagai salah satu penopang utama daya tampung lulusan SMP. Beberapa sekolah bahkan memiliki jumlah rombel yang cukup besar pada jurusan otomotif, komputer, akuntansi, dan desain komunikasi visual.
Perbedaan kapasitas tersebut menghadirkan pertanyaan menarik. Ketika satu provinsi memiliki standar yang relatif sama, mengapa rata-rata pagu per rombel masih menunjukkan variasi antarwilayah?
Pada akhirnya, angka-angka itu tidak sekadar berbicara mengenai jumlah kursi yang tersedia. Di baliknya terdapat harapan ribuan calon peserta didik yang sedang memperebutkan ruang belajar, sementara setiap daerah berupaya menyeimbangkan antara daya tampung, sarana pendidikan, dan pemerataan akses sekolah.
Di tengah ketatnya persaingan SPMB 2026, satu hal tampak jelas: kursi sekolah negeri mungkin dihitung dengan angka, tetapi harapan orang tua dan peserta didik tidak pernah bisa dibatasi sekadar oleh kalkulator rombel.
Sumber data: SPMB Jatim 2026

