Tendensius.com, Madiun – Di tengah ketergantungan petani terhadap pupuk dan pestisida kimia yang kian tinggi, Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Madiun mencoba mengembalikan cara-cara lama yang lebih ramah lingkungan. Kamis (21/5/2026), sebanyak 40 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Sari Murni Desa Ngepeh, Kecamatan Saradan, tampak antusias mengikuti pelatihan pembuatan agen hayati.
Pelatihan ini merupakan bagian dari kegiatan Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tahun Anggaran 2026. Tidak hanya teori, para petani juga diajak memahami langsung cara membuat hingga mengaplikasikan agen hayati sederhana berbahan alami.
Di hadapan peserta, Pengawas Mutu Hasil Pertanian Ahli Muda, Mochamad Sholichin, SP menyampaikan bahwa kerusakan lahan pertanian saat ini salah satunya dipicu penggunaan bahan kimia berlebihan, terutama herbisida.
“Agen hayati itu semua makhluk hidup yang ada di lingkungan, kita kembalikan lagi ke lingkungan dalam arti sawah. Sawah kan banyak yang rusak karena perlakuan kimiawi,” ujarnya.
Menurutnya, pola tanam instan yang mengejar kecepatan justru memperparah kondisi tanah. Ia menggambarkan fenomena yang akrab di telinga petani sebagai “asam-asaman”.
“Kemarin dibajak, digaru, hari ini ditanami. Seminggu kemudian pembusukan mulai terjadi. Bahasanya petani, asam-asaman,” katanya.
Sholichin menjelaskan, agen hayati secara sederhana dapat dibuat menggunakan media dasar kentang dan gula yang direbus untuk mematikan mikroba liar. Setelah dingin, media dimasukkan isolat bakteri atau jamur tunggal dan difermentasi sekitar dua minggu sebelum diaplikasikan.

Sementara untuk metode lebih sederhana seperti PGPR, bahan dapat memanfaatkan akar bambu, alang-alang, hingga putri malu yang difermentasi menggunakan katul dan trasi.
“Nah, karena ini proses pembuatan sederhana dikembalikan lagi gak perlu pakai aerator,” jelasnya.
Dalam aplikasinya, petani diminta lebih disiplin. Tangki semprot wajib dicuci menggunakan air panas agar residu pestisida kimia tidak membunuh mikroorganisme hayati yang akan diaplikasikan.
“Aplikasi sebaiknya sore hari,” tambahnya.
Narasumber lainnya, Ali Zubaidi, menekankan bahwa ledakan serangan hama dan penyakit di lahan pertanian saat ini terjadi karena rusaknya keseimbangan ekosistem akibat penggunaan pestisida kimia berlebihan.
“Ketika terjadi serangan, yang kita lakukan biasanya langsung menyemprot menggunakan pestisida kimia. Padahal pestisida kimia bersifat spektrum luas. Tidak hanya hamanya yang mati, musuh alaminya juga ikut mati,” terangnya.
Ia menjelaskan agen hayati bekerja secara alami melalui proses infeksi terhadap organisme pengganggu tumbuhan. Dengan semakin banyak mikroba baik di hamparan sawah, tingkat kerusakan tanaman dapat ditekan sejak dini.
“Agen hayati ini tidak membunuh secara langsung, melainkan bekerja secara alami melalui proses infeksi,” katanya.
Ali juga menegaskan bahwa agen hayati bukan hanya untuk tanaman padi, tetapi juga bisa diterapkan pada tanaman hortikultura dan sayuran.
Selain mengurangi biaya produksi petani, penggunaan agen hayati dinilai mampu memperbaiki kesuburan tanah, menjaga lingkungan, sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia pertanian.
Di tengah sawah yang mulai lelah akibat bertahun-tahun dijejali bahan kimia, pelatihan sederhana di Desa Ngepeh itu seperti upaya kecil mengembalikan napas tanah agar kembali “waras”.

