MADIUN, TENDENSIUS – Di tengah pesatnya arus informasi digital, Perpustakaan Sumber Ilmu SMAN 4 Madiun memilih melangkah lebih jauh. Bersama Ekstrakurikuler Gerakan Literasi Sekolah (GLS), sekolah ini menggelar studi tiru ke Perpustakaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sebagai upaya meningkatkan kualitas layanan perpustakaan sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah.

Kegiatan yang dilaksanakan pada 2 Juli 2026 tersebut diikuti sebanyak 30 siswa-siswi anggota GLS, didampingi Kepala Perpustakaan, guru pendamping, serta pustakawan Perpustakaan Sumber Ilmu SMAN 4 Madiun.

Rombongan disambut langsung oleh Kepala Perpustakaan ITS, Agus Santoso, S.Sos., M.Med.Kom., bersama jajaran pustakawan dan staf Perpustakaan ITS. Dalam kunjungan itu, peserta memperoleh berbagai pengalaman melalui sesi presentasi, diskusi, tanya jawab, hingga library tour yang memperkenalkan sistem pengelolaan perpustakaan modern berbasis teknologi dan pelayanan.

Kepala SMAN 4 Madiun, Nunung Nurlaila, menegaskan bahwa perpustakaan harus terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman agar tetap menjadi ruang belajar yang diminati peserta didik.

“Saat ini, anak-anak hidup di tengah banjir informasi. Tantangannya bukan lagi mencari informasi, tetapi memilih informasi yang benar dan bermanfaat. Karena itu, perpustakaan tidak boleh hanya menjadi tempat menyimpan buku, melainkan pusat tumbuhnya rasa ingin tahu,” terang Nunung.

Menurutnya, studi tiru bukan sekadar melihat fasilitas yang dimiliki sekolah lain, tetapi menjadi kesempatan untuk menyerap gagasan dan semangat inovasi yang dapat diterapkan di SMAN 4 Madiun.

“Kadang kita terlalu sibuk menghitung berapa banyak buku yang dimiliki, padahal yang lebih penting adalah berapa banyak ilmu yang benar-benar dibaca dan dipahami. Studi tiru ini bukan tentang menyalin apa yang dimiliki ITS, tetapi belajar semangatnya: bagaimana pengetahuan dibuat dekat, menarik, dan menjadi kebutuhan,” imbuhnya.

Nunung berharap berbagai pengalaman yang diperoleh selama kunjungan mampu memperkuat Gerakan Literasi Sekolah sekaligus mendorong Perpustakaan Sumber Ilmu menjadi ruang yang semakin hidup, kreatif, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi.

“Sekolah yang baik bukan sekolah yang merasa sudah cukup, tetapi sekolah yang terus belajar. Jika perpustakaan menjadi hidup, maka budaya berpikir akan tumbuh. Dan ketika budaya berpikir tumbuh, masa depan akan lebih mudah dibangun,” pungkasnya.