MADIUN, TENDENSIUS — Ruang rapat Bakesbangpol Kabupaten Madiun, Senin (14/9/2026), berubah menjadi ruang refleksi sejarah. Para veteran berkumpul memperingati Hari Veteran Nasional (Harvetnas) 2026, membawa pesan bahwa usia boleh menua, tetapi semangat pengabdian kepada bangsa tidak semestinya ikut surut.
Peringatan yang diselenggarakan Bakesbangpol Kabupaten Madiun tersebut dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Madiun Sigit Budiarto, jajaran Bakesbangpol, Ketua beserta pengurus Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) Kabupaten Madiun, serta Persatuan Istri Veteran Republik Indonesia (Piveri).
Mengusung tema “Veteran Menjaga Nilai Juang Menginspirasi Indonesia Maju”, momentum tersebut tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Nilai perjuangan para veteran kembali diletakkan sebagai cermin bagi generasi yang kini mengemban tugas mengisi kemerdekaan.
Kepala Bakesbangpol Kabupaten Madiun, Hestu Wiradriawan dalam laporan penyelenggara mengatakan, peringatan Harvetnas menjadi sarana mengenang sejarah sekaligus memberikan penghormatan atas pengorbanan para pejuang bangsa.
Ia menyampaikan, kegiatan tersebut juga diarahkan untuk mewariskan nilai nasionalisme, patriotisme dan jiwa pantang menyerah kepada generasi muda.
Menurutnya, peringatan tersebut sekaligus menjadi ruang mempererat silaturahmi antara pemerintah daerah dengan keluarga besar LVRI dan Piveri.
“Khususnya untuk bisa mewujudkan Kabupaten Madiun yang Bersaja (Bersih, Sehat, dan Sejahtera),” jelasnya.

Sekda: Veteran Bukan Sekadar Gelar
Sekretaris Daerah Kabupaten Madiun Sigit Budiarto menegaskan, Hari Veteran Nasional memiliki makna jauh lebih besar dibandingkan sekadar seremoni tahunan.
Ia mengingatkan, Hari Veteran Nasional ditetapkan melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 30 Tahun 2014, sebagai momentum mengenang gencatan senjata pada 10 Agustus 1949 setelah perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
“Tema peringatan Hari Veteran Nasional tahun 2026 adalah ‘Veteran Menjaga Nilai Juang Menginspirasi Indonesia Maju’. Peringatan ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan momentum untuk mengenang dan menghargai jasa para pejuang bangsa yang telah mempertaruhkan jiwa dan raganya demi tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujar Sigit.
Sigit juga menyampaikan permohonan maaf karena pelaksanaan peringatan Harvetnas di Kabupaten Madiun berlangsung pada September, tidak tepat pada tanggal 10 Agustus.
“Dan nyuwun pangapunten, mohon maaf bila peringatan Hari Veteran Nasional agak mundur hampir satu bulan lebih sedikit nggih, Bapak Ibu. Semoga ini tidak mengurangi makna dan juga kekhidmatan,” katanya.
Di hadapan para veteran, Sigit menegaskan bahwa perjuangan generasi sekarang memang berbeda dengan perjuangan para pendahulu.
“Jika dahulu berjuang mempertahankan kemerdekaan dengan mengangkat senjata, maka perjuangan kami generasi saat ini adalah dengan mengisi kemerdekaan dengan kerja keras, kejujuran, persatuan, inovasi, pengabdian pada masyarakat, serta memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat,” jelasnya.
Menurut Sigit, tantangan zaman kini bergeser ke perkembangan teknologi, perubahan sosial, persaingan ekonomi serta berbagai persoalan yang dapat menguji persatuan bangsa.
Ia pun mengajak generasi muda menjadikan nilai perjuangan veteran sebagai pedoman.
“Mari kita jadikan Hari Veteran Nasional sebagai momentum untuk memperkuat rasa nasionalisme, meningkatkan gotong royong, tenggang rasa, guyub rukun, dan memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa tahun 1945,” tambahnya.
Pesan tersebut kemudian dipertegas melalui ungkapan Jawa yang familiar di tengah masyarakat.
“Urip iku urup. Panjenengan harus selalu ngurupi urip yang tengah kita jalani bersama. Di tengah kemajuan teknologi informasi dan juga kemajuan era digitalisasi yang semakin maju, nilai-nilai perjuangan panjenengan harus selalu kita pedomani dan kita teladani bersama,” ujarnya.
“Pengabdian Boleh Berhenti, Tetapi Keteladanan Tidak Pernah Mati”
Sigit juga memberikan penghormatan kepada para veteran yang masih aktif memberikan kontribusi meski telah memasuki usia lanjut.
Ia menyebut, berakhirnya masa pengabdian secara administratif tidak berarti berakhirnya semangat untuk mengabdi.
“Semua perjuangan para veteran hendaknya tidak berhenti menjadi catatan sejarah. Nilai-nilai perjuangan harus terus diwariskan kepada generasi penerus,” tegasnya.
Bahkan, Sigit menyampaikan sebuah kalimat yang kemudian menjadi salah satu pesan kuat dalam peringatan tersebut.
“Old soldiers never die, they just fade away. Pengabdian boleh berhenti, tetapi keteladanan tidak pernah mati,” kata Sigit.
Ia juga meminta doa dan restu para veteran agar pemerintah daerah mampu menjalankan amanah pembangunan dengan sebaik-baiknya.
“Doakan kami semuanya, Bapak Bupati dan Bapak Wakil Bupati beserta seluruh jajaran termasuk Bakesbangpol dapat meneladani perjuangan panjenengan yang berjuang dengan ikhlas dan tanpa pamrih,” imbuhnya.

Veteran Sipil Masih Ada
Sementara itu, Plt. Ketua LVRI Kabupaten Madiun, Agus Seto menekankan bahwa veteran bukan hanya bagian dari catatan masa lalu.
Menurutnya, veteran merupakan sumber inspirasi yang membawa nilai patriotisme, nasionalisme, keberanian, persatuan, rela berkorban, disiplin, integritas dan cinta tanah air.
“Usia boleh menua, tetapi semangat juang tidak pernah mengenal batas waktu. Veteran bukan hanya pelaku sejarah, melainkan pejuang nilai-nilai luhur perjuangan bangsa,” jelasnya.
Ia menambahkan, pembangunan bangsa tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan fisik dan kemajuan teknologi.
“Kemajuan bangsa tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik dan kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kekuatan karakter bangsa yang berakar pada nilai-nilai perjuangan,” tegasnya.
Ketua LVRI juga menyoroti keberadaan veteran pejuang dari kalangan sipil di Kabupaten Madiun.
Dalam kesempatan tersebut diperkenalkan Ponikem, yang disebut sebagai veteran pejuang dan masih aktif hadir dalam kegiatan organisasi meski telah berusia lanjut.
“Jadi, veteran ini bukan hanya dari tentara saja, Pak. Kami harapkan dari sipil juga ada yang veteran. Itu perjuangan yang membantu perjuangan daripada bapak-bapak tentara. Contohnya Ibu ini satu,” ungkapnya.
Ia menyebut masih terdapat tiga veteran pejuang di Madiun, termasuk Ponikem yang disebut masih aktif menghadiri kegiatan organisasi.
Dari Senjata ke Pelayanan
Peringatan Harvetnas akhirnya membawa satu pesan besar: medan perjuangan memang berubah.
Generasi terdahulu mempertahankan kemerdekaan dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. Generasi sekarang menghadapi medan yang berbeda—integritas, pelayanan publik, persatuan, inovasi, kemajuan teknologi dan kesejahteraan masyarakat. Di titik itulah pesan para veteran menjadi relevan.
Bagi pemerintah, penghormatan terhadap veteran tidak berhenti pada seremoni, tepuk tangan maupun ucapan selamat. Nilai perjuangan justru diuji dalam pekerjaan sehari-hari: kejujuran dalam menjalankan amanah, keberanian mengambil keputusan, pelayanan kepada masyarakat dan kesetiaan pada kepentingan bangsa.
Sementara bagi generasi muda, sejarah bukan sekadar sesuatu yang dikenang setiap Agustus atau September. Sebab sebagaimana pesan Sekda Kabupaten Madiun, pengabdian boleh berhenti, tetapi keteladanan tidak pernah mati.


