MADIUN, TENDENSIUS – Kemerdekaan tidak selalu dirayakan dengan seremoni megah. Di Desa Ngetrep, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, semangat kemerdekaan justru dirawat dari meja makan, guyub warga, dan tradisi kebersamaan.

Malam tirakatan dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Ngetrep berlangsung khidmat. Salah satu rangkaian kegiatan diisi lomba tumpeng antar-RT, melibatkan RT 1 hingga RT 9.

Sembilan tumpeng bukan sekadar sajian nasi dan lauk. Di balik bentuk dan hiasannya, terselip gambaran sederhana tentang bagaimana masyarakat desa merawat kebersamaan—di tengah zaman yang semakin cepat dan serba digital.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Desa Ngetrep Drs. Sarjono beserta jajaran Pemerintah Desa, Ketua BPD, LPMD, tokoh agama, tokoh masyarakat serta tamu undangan.

Rangkaian acara meliputi pembukaan, sambutan kepala desa, pengumuman pemenang lomba tumpeng, penyerahan hadiah dan doa bersama.

Dari Tumpeng, Bicara Masa Depan

Dalam sambutannya, Sarjono menyampaikan rasa syukur sekaligus harapan agar momentum kemerdekaan menjadi pengingat bagi masyarakat untuk terus menjaga persatuan.

“Di usia ke-81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia ini, semoga bangsa kita semakin tangguh, semakin kuat dan semakin mampu mengejar kemajuan negara-negara maju seperti Amerika dan negara-negara Eropa,” ujar Sarjono.

Menurutnya, perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat. Komunikasi, mobilitas hingga berbagai pelayanan kini berlangsung semakin cepat.

“Di era digital seperti sekarang, hampir semua kehidupan kita tidak lepas dari teknologi. Dari komunikasi sampai perjalanan, semuanya bergerak cepat. Desa dan kota sama-sama menghadapi perubahan ini. Karena itu, masyarakat harus mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri dan kebersamaan,” katanya.

Namun, bagi Desa Ngetrep, kemajuan tidak cukup hanya diukur dari seberapa cepat masyarakat mengakses teknologi.

Sinyal boleh semakin cepat, tetapi hubungan antar warga jangan sampai semakin renggang.

Sarjono berharap semangat pembangunan desa tetap berjalan beriringan dengan budaya guyub rukun.

“Khusus untuk Desa Ngetrep, sesuai dengan visi dan misi desa, kami berharap masyarakat senantiasa menjaga guyub rukun, hidup ayem, tentrem dan aman. Generasi penerus juga harus semakin tangguh, mandiri dan mampu menghadapi tantangan zaman,” tuturnya.

Tumpeng Jadi Simbol Kebersamaan

Dalam lomba tersebut, RT 06 meraih juara III dengan nilai 90, disusul RT 07 sebagai juara II dengan nilai 91.

Sementara RT 03 keluar sebagai juara pertama dengan nilai 94.

Bagi RT yang belum berhasil menjadi juara, Pemerintah Desa Ngetrep tetap memberikan hadiah partisipasi sebagai bentuk apresiasi atas keterlibatan warga.

Langkah itu membuat kompetisi tidak berhenti pada siapa yang membawa pulang piala. Seluruh RT tetap mendapatkan penghargaan atas partisipasinya.

Sebab dalam suasana kemerdekaan, yang dicari bukan hanya tumpeng terbaik, tetapi juga kebersamaan yang tetap utuh setelah lomba selesai.

Di tengah tuntutan agar desa semakin modern dan masyarakat semakin melek digital, malam tirakatan di Ngetrep mengingatkan bahwa pembangunan juga membutuhkan modal sosial: kerukunan, gotong royong dan rasa memiliki terhadap desa.

Kemerdekaan ke-81 pun dirayakan dengan cara sederhana—duduk bersama, makan bersama, berdoa bersama, dan berharap masa depan desa tetap tumbuh tanpa kehilangan akar kebersamaannya.