Setiap tahun cerita lama kembali diputar. Jumlah lulusan bertambah. Minat masuk SMA negeri tetap tinggi. Tetapi kursinya seolah berhenti bertambah. Akibatnya, setiap musim penerimaan murid baru selalu lahir dua kelompok: yang bersyukur diterima dan yang terpaksa menerima kenyataan. Desakan agar pemerintah menambah kuota SMA negeri pun kembali mengemuka dari berbagai elemen masyarakat.
Ironinya, Indonesia tidak pernah kekurangan slogan tentang pentingnya pendidikan. Yang sering kurang justru ruang belajar.
Ketika ribuan siswa bersaing memperebutkan kursi yang terbatas, persoalannya bukan lagi sekadar siapa lebih pintar atau lebih beruntung. Publik mulai bertanya, apakah kapasitas sekolah memang sudah sebanding dengan kebutuhan masyarakat?
Tentu, menambah kuota bukan perkara semudah menggeser angka di atas kertas. Ada ruang kelas, guru, anggaran, hingga standar mutu yang harus dijaga. Memaksakan jumlah siswa tanpa kesiapan juga berisiko menurunkan kualitas layanan pendidikan.
Namun, membiarkan persoalan ini berulang setiap tahun juga bukan jawaban.
Kalau setiap musim penerimaan murid baru selalu diwarnai keluhan yang sama, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya sistem seleksinya, tetapi juga perencanaan daya tampungnya.
Pendidikan semestinya menjadi ruang membuka kesempatan, bukan sekadar arena menghitung siapa yang tersisa di luar pagar.
Karena itu, aspirasi agar pemerintah mengevaluasi kapasitas SMA negeri patut didengar dan dikaji berdasarkan data kebutuhan riil, kemampuan anggaran, serta pemerataan akses pendidikan. Pada saat yang sama, sekolah swasta juga perlu diperkuat agar menjadi pilihan berkualitas, bukan sekadar alternatif terakhir.
Setiap tahun yang diperebutkan selalu kursinya. Padahal yang sebenarnya sedang dipertaruhkan adalah masa depan anak-anak.

