Demokrasi tidak pernah tumbang hanya karena kritik. Ia justru mulai rapuh ketika pertanyaan dianggap ancaman.

Dalam beberapa hari terakhir, publik disuguhi sebuah ironi. Aktivitas konfirmasi yang menjadi napas jurnalisme justru dianalogikan sebagai “virus”. Sebuah metafora yang mungkin lahir dari kelelahan menghadapi sorotan, tetapi sekaligus menyisakan pertanyaan yang jauh lebih besar: sejak kapan pertanyaan menjadi penyakit?

Konfirmasi adalah prosedur. Bukan provokasi.

Seorang jurnalis yang datang membawa buku catatan bukan berarti membawa vonis. Ia membawa ruang bagi semua pihak untuk menjelaskan. Justru ketika ruang itu ditutup, spekulasi tumbuh lebih cepat daripada fakta.

Ironisnya, alasan yang muncul kemudian adalah demi menjaga kondusivitas.

Kata “kondusif” memang indah didengar. Namun dalam praktik birokrasi, kata itu kadang berubah menjadi selimut yang menutupi rasa tidak nyaman terhadap keterbukaan. Padahal kondisi yang benar-benar kondusif bukanlah ketika tidak ada pertanyaan, melainkan ketika setiap pertanyaan dijawab secara terbuka.

Sebab masyarakat hari ini tidak lagi hidup di era informasi satu arah.

Mereka mampu membedakan antara jurnalis yang sedang menjalankan tugas dengan pihak yang memang sengaja mencari gaduh. Menyamakan keduanya justru berpotensi melahirkan stigma yang tidak perlu.

Kalau konfirmasi disebut virus, lalu apa nama untuk budaya diam?

Bukankah diam terhadap pertanyaan publik justru lebih berbahaya? Ia tidak menimbulkan demam, tetapi perlahan menggerus kepercayaan.

Pers sering disebut sebagai pilar keempat demokrasi karena menjalankan fungsi kontrol, menyampaikan informasi, sekaligus menjadi penghubung antara pemerintah dan masyarakat. Menghalangi atau mendiskreditkan fungsi tersebut pada akhirnya bukan sekadar persoalan hubungan dengan media, melainkan juga menyangkut hak publik untuk memperoleh informasi.

Tentu tidak semua kritik media selalu benar. Tidak semua berita sempurna. Karena itulah tersedia hak jawab, hak koreksi, klarifikasi, bahkan mekanisme penyelesaian sengketa pers.

Yang tidak sehat adalah ketika pertanyaan lebih dulu dicurigai sebelum dijawab.

Sebab demokrasi bukan ruang gema yang hanya mengizinkan tepuk tangan. Demokrasi adalah ruang yang menerima pertanyaan, bahkan ketika pertanyaan itu terasa tidak nyaman.

Pada akhirnya, sejarah jarang mengingat siapa yang paling keras menyebut wartawan sebagai “virus”.

Sejarah justru lebih sering mengingat siapa yang tetap membuka pintu ketika pertanyaan datang mengetuk.

Dan di situlah letak perbedaan antara kekuasaan yang percaya diri dengan kekuasaan yang mudah merasa terganggu.