Seleksi penerimaan murid baru hampir selalu menyisakan dua kelompok. Yang diterima. Dan yang mempertanyakan.

Tahun ini, polemik jalur prestasi di salah satu SMA negeri favorit di Ponorogo ikut menarik perhatian legislatif. Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur memilih datang langsung ke sekolah untuk meminta penjelasan, bukan sekadar menyimpulkan berdasarkan kabar yang beredar.

Langkah seperti itu patut diapresiasi. Sebab di tengah derasnya opini di media sosial, klarifikasi tetap menjadi jalan yang paling sehat.

Di sisi lain, besarnya perhatian publik juga menunjukkan satu hal: kepercayaan terhadap sistem seleksi tidak cukup dibangun dengan aturan, tetapi juga dengan pemahaman yang utuh.

Masyarakat tidak hanya ingin tahu siapa yang lolos. Mereka juga ingin memahami mengapa seseorang lolos.

Ketika penjelasan mengenai kuota, bobot prestasi, dan mekanisme pemeringkatan tidak dipahami secara luas, ruang kosong itu mudah diisi oleh dugaan, asumsi, bahkan narasi yang belum tentu benar.

Ironinya, setiap musim penerimaan murid baru, yang paling cepat berkembang bukan hanya daftar kelulusan. Tetapi juga daftar spekulasi.

Padahal, sistem yang baik seharusnya membuat peserta bisa memperkirakan peluangnya dengan rasional, bukan sekadar menunggu hasil sambil menebak-nebak logika seleksi.

Pernyataan bahwa prestasi tidak otomatis menjamin kelulusan karena masih mempertimbangkan kuota dan kualitas capaian merupakan bagian dari mekanisme yang memang perlu dipahami masyarakat. Namun justru karena itulah transparansi menjadi penting.

Semakin terbuka mekanisme penilaian, semakin kecil ruang bagi prasangka.

Semakin jelas dasar pemeringkatan, semakin mudah publik menerima hasilnya, sekalipun tidak sesuai harapan. Kalau setiap selesai pengumuman harus ada sidak untuk menjelaskan cara kerja sistem, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya proses seleksinya, tetapi juga cara sistem itu menjelaskan dirinya kepada publik.