Pendidikan seharusnya menjadi ruang yang paling mudah dijelaskan kepada anak-anak.
Sayangnya, setiap kali musim penerimaan siswa baru tiba, yang sering kali lebih sibuk belajar justru para orang tua. Mereka mempelajari jalur, kuota, prioritas, strategi, simulasi, hingga kemungkinan-kemungkinan yang berubah di setiap tahapan.
Belakangan, muncul berbagai keluhan dari masyarakat terkait hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), khususnya mengenai perbedaan hasil antara jalur domisili dan jalur prestasi. Keluhan tersebut banyak beredar di media sosial dan mencerminkan kekecewaan sebagian orang tua serta calon peserta didik. Tentu, pengalaman yang disampaikan di media sosial merupakan perspektif masing-masing dan belum tentu menggambarkan keseluruhan pelaksanaan SPMB.
Namun ada satu hal yang patut menjadi perhatian. Jika semakin banyak peserta merasa hasil akhir sulit dipahami, maka yang perlu dievaluasi bukan hanya hasil seleksinya, tetapi juga bagaimana sistem itu dipahami publik.
Sistem yang baik bukan sekadar adil. Ia juga harus mudah dipahami. Karena rasa keadilan sering kali lahir dari transparansi.
Ironinya, banyak orang tua kini merasa harus menyusun “strategi” layaknya bermain catur. Memilih sekolah bukan lagi semata berdasarkan minat atau kualitas pendidikan, melainkan menghitung peluang, membaca pola tahapan, hingga memperkirakan pergerakan peserta lain.
Padahal yang sedang diperebutkan bukan hadiah undian. Melainkan akses pendidikan.
Di sisi lain, perlu diingat bahwa setiap jalur memang memiliki tujuan kebijakan masing-masing. Jalur domisili, prestasi, afirmasi, maupun mutasi dirancang untuk memenuhi prinsip pemerataan sekaligus memberikan ruang bagi berbagai kelompok peserta didik. Jika dalam praktiknya muncul persepsi ketidakadilan atau kebingungan, maka evaluasi terhadap mekanisme dan komunikasi kebijakan menjadi hal yang wajar.
Anak-anak tentu tidak sedang memperdebatkan rumus seleksi. Mereka hanya ingin tahu satu hal sederhana: “Kalau aku belajar lebih keras, apakah peluangku memang lebih besar?”
Pertanyaan itu layak dijawab dengan sistem yang konsisten dan mudah dipahami. Karena pendidikan bukan hanya tentang menerima siswa.
Tetapi juga tentang menanamkan kepercayaan bahwa usaha dan aturan berjalan beriringan.
Kalau untuk masuk sekolah negeri orang tua harus menjadi analis data, ahli strategi, sekaligus peramal hasil seleksi, mungkin yang perlu disederhanakan bukan harapan masyarakat… melainkan sistemnya.

