Program Indonesia Pintar lahir dengan niat sederhana: membantu anak-anak agar tetap bersekolah. Bukan untuk membuat orang tua bingung mencari keberadaan rekening, apalagi membuat siswa merasa tertekan karena persoalan yang bahkan bukan mereka ciptakan.

Sebab sesungguhnya, yang dititipkan negara bukan sekadar uang, melainkan kepercayaan.

Ironisnya, ketika ada orang tua yang sekadar bertanya mengenai rekening PIP anaknya, suasana yang semestinya penuh keterbukaan justru berubah menjadi ruang yang dipenuhi kegelisahan. Padahal bertanya tentang hak sendiri seharusnya tidak memerlukan keberanian ekstra.

Dana PIP memang boleh dipakai untuk kepentingan pendidikan. Tetapi rasa aman anak untuk pergi ke sekolah juga bagian dari pendidikan yang tak kalah penting.

Sekolah dibangun untuk melahirkan rasa percaya, bukan rasa takut.

Jika benar ada praktik penahanan rekening atau pengalihan mekanisme pencairan yang menimbulkan pertanyaan, maka yang paling dibutuhkan bukanlah saling curiga, melainkan keterbukaan. Sebab transparansi tidak pernah merugikan pihak yang bekerja sesuai aturan.

Publik pun pantas bertanya dengan tenang:

Kalau dana itu memang hak siswa, mengapa orang tua harus kesulitan mengetahui keberadaan rekeningnya?

Kalau semua prosedur telah sesuai petunjuk teknis, mengapa pertanyaan sederhana bisa berkembang menjadi keresahan?

Dan kalau pendidikan bertujuan membentuk karakter, bukankah keteladanan pertama yang perlu diajarkan adalah keberanian untuk menjelaskan, bukan kecanggihan untuk menghindari pertanyaan?

Pada akhirnya, Program Indonesia Pintar tidak membutuhkan bangunan megah atau slogan panjang. Ia hanya membutuhkan satu hal yang sederhana:

Bahwa bantuan untuk siswa benar-benar dikelola dengan cara yang membuat orang tua tenang, anak-anak nyaman, dan sekolah tetap menjadi rumah yang ramah bagi pertanyaan.

Karena yang paling mahal dari pendidikan bukanlah saldo dalam rekening, melainkan kepercayaan yang tersimpan di dalamnya.

Buku tabungan boleh disimpan di lemari, tetapi kepercayaan orang tua tidak bisa dititipkan dengan kunci ganda.

Sebab PIP dibuat agar anak tetap sekolah, bukan agar orang tua harus sekolah lagi mempelajari ke mana rekening anaknya pergi.