MADIUN, TENDENSIUS – Biasanya, masyarakat yang harus datang ke kantor. Mengurus KTP, administrasi, layanan kesehatan, pajak, BPJS hingga berbagai urusan pemerintahan lainnya, warga datang membawa berkas, mengikuti antrean, lalu menunggu pelayanan.

Namun di Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan, polanya dibalik. Melalui program Bahana Bersahaja, Pemerintah Kabupaten Madiun justru membawa pelayanan langsung ke tengah masyarakat.

Bukan hanya pejabat yang datang membawa sambutan. Sejumlah organisasi perangkat daerah ikut diturunkan dengan sekitar 33 jenis layanan yang dapat dimanfaatkan masyarakat.

Kepala Desa Teguhan, Abdullah Al Baiti, yang akrab disapa Bait, menyebut kehadiran Bahana Bersahaja menjadi kehormatan tersendiri bagi warganya.

“Hadirnya Bahana Bersahaja di Desa Teguhan merupakan kehormatan tak terkira. Masyarakat bisa mendapatkan pelayanan langsung yang diturunkan oleh pemerintah,” ujar Bait, Rabu (19/08/2026).

Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar menghadirkan pelayanan administrasi.

Agenda juga diisi sarasehan bersama masyarakat. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kerja bakti. Bahkan, salah beberapa warga Desa Teguhan mendapatkan bantuan program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

Bagi Teguhan, Bahana Bersahaja menjadi momentum ketika desa tidak sekadar menjadi lokasi kegiatan. Desa menjadi tempat pemerintah benar-benar datang dan membuka pintu pelayanan.

33 Layanan Turun ke Desa

Upacara pembukaan Bahana Bersahaja dipimpin Wakil Bupati Madiun, dr. Purnomo Hadi.

Dalam sambutannya yang santai dan beberapa kali diselingi guyonan khas Jawa, Purnomo menjelaskan filosofi di balik Bahana Bersahaja.

“Bahana Bersahaja adalah Bupati, Wakil Bupati, OPD semuanya hadir di tengah-tengah masyarakat untuk membawa pelayanan,” kata Purnomo.

Sekitar 33 jenis layanan disiapkan untuk masyarakat. Mulai dari administrasi kependudukan, layanan kesehatan, BPJS, perpajakan, sertifikasi halal, pelayanan UMKM hingga berbagai kebutuhan administrasi lainnya.

Pelayanan kesehatan juga diperkuat dengan kehadiran tenaga medis serta dukungan fasilitas kesehatan.

Wabup menyebut, sejumlah dokter spesialis dari rumah sakit juga dijadwalkan hadir bersama jajaran Dinas Kesehatan, Puskesmas Klagenserut dan Puskesmas Jiwan.

“Prinsipnya adalah bahwa Pemerintah Kabupaten Madiun mencoba membawa pelayanan dekat dengan masyarakat,” tegasnya.

Konsepnya sederhana. Jika selama ini masyarakat datang ke kantor pemerintahan, maka kali ini kantor pemerintahan yang seolah datang ke desa.

Bukan Sekadar Panggung dan Spanduk

Bahana Bersahaja juga tidak berhenti pada urusan administrasi. Malam hari dijadwalkan berlangsung sarasehan yang menjadi ruang pertemuan antara masyarakat dengan pemerintah daerah.

Wakil Bupati menyampaikan, Bupati Madiun Hari Wuryanto menitipkan salam karena saat pembukaan masih dalam perjalanan dari Jakarta. Bupati dijadwalkan hadir dalam agenda sarasehan bersama masyarakat.

Di sana, masyarakat diberi ruang untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi. Pesannya cukup jelas. Kalau ada persoalan, jangan hanya berhenti menjadi bahan percakapan di warung kopi atau tenggelam dalam deretan pesan grup WhatsApp. Datang, duduk bersama, lalu sampaikan.

Wabup juga mengapresiasi seluruh unsur yang terlibat, mulai pemerintah desa, kecamatan, OPD, PKK hingga komunitas Kampung Pesilat yang dinilai ikut menjaga kondusivitas.

“Yang paling penting guyub rukun, damai Kabupaten Madiun,” ujarnya.

Di tengah sambutan resmi, Purnomo beberapa kali mencairkan suasana dengan guyonan kepada warga dan ibu-ibu PKK.

Namun di balik tawa itu, terselip pesan yang lebih serius. Pelayanan publik tidak seharusnya selalu terasa jauh, rumit dan berpusat di balik meja-meja kantor.

Sesekali, birokrasi memang perlu keluar. Turun, mendatangi masyarakat yang selama ini justru menjadi alasan keberadaan birokrasi itu sendiri.

Teguhan Mendapat Giliran, Desa Lain Menanti

Bagi Kades Teguhan Abdullah Al Baiti, menjadi tuan rumah Bahana Bersahaja merupakan kesempatan yang tidak datang setiap hari.

Dalam satu rangkaian kegiatan, masyarakat mendapatkan akses pelayanan, ruang dialog, kegiatan sosial hingga kerja bakti. Ada pasar murah, pelayanan kesehatan, pelayanan administrasi, sarasehan hingga RTLH.

Sementara Wakil Bupati Purnomo Hadi menyebut Bahana Bersahaja tidak akan berhenti di Teguhan. Program tersebut direncanakan bergeser ke desa-desa lain di Kabupaten Madiun.

Artinya, setelah Teguhan mendapatkan giliran, desa lain akan menunggu. Sebab pada akhirnya, pelayanan publik memang tidak cukup hanya terpampang dalam baliho, slogan atau laporan kegiatan.

Ia harus bisa disentuh. Dirasakan. Dan kalau perlu, diantarkan langsung sampai ke desa. Di Teguhan, setidaknya untuk sehari esok, warga tidak perlu bertanya ke mana harus mencari pemerintah.

Pemerintah yang datang mencari warganya. Bahana Bersahaja pun menjadi lebih dari sekadar agenda keliling. Ia menjadi pengingat sederhana bahwa kekuasaan, pelayanan dan birokrasi sejatinya tidak dibangun untuk membuat jarak. Melainkan untuk memperpendeknya.