Kabar baik kembali datang dari meja statistik. Pengangguran turun, angka membaik, grafik menanjak dengan sopan. Negeri ini tampaknya sedang menuju gerbang kemakmuran, setidaknya di layar presentasi.

Di lapangan, rakyat juga sibuk. Ada yang bekerja pagi sampai malam, ada yang sambil kerja sambil cari kerja, ada pula yang kerja keras agar tetap bisa bekerja besok. Semangat luar biasa. Hanya hasilnya kadang masih malu-malu muncul.

Menariknya, ukuran bekerja memang penuh kejutan. Satu jam aktivitas produktif dalam sepekan pun sudah cukup membuat seseorang keluar dari status pengangguran. Sebuah kabar menggembirakan bagi banyak orang: ternyata harapan kerja tidak perlu full time, cukup sempat-sempatnya.

Tak heran jika angka pengangguran bisa turun, sementara keluhan biaya hidup tetap naik. Ini membuktikan bahwa statistik dan kenyataan kadang tinggal serumah, tapi jarang ngobrol.

Sektor pertanian masih menyerap tenaga kerja terbesar. Artinya, cangkul dan sawah masih menjadi benteng terakhir ekonomi keluarga. Ketika industri modern belum cukup luas membuka pintu, ladang kembali jadi tempat pulang.

Sementara itu, jutaan warga usia produktif masih berada di luar angkatan kerja. Ada yang sekolah, ada yang mengurus rumah tangga, ada juga yang mungkin sedang mengurus kesabaran.

Tentu kita patut bersyukur. Data memberi optimisme, rakyat memberi ketahanan, dan dompet memberi pelajaran hidup. Karena di negeri ini, kadang yang paling kuat bukan ekonomi nasional, melainkan daya tahan masyarakatnya.

Pada akhirnya, kita belajar satu hal penting: angka bisa dibuat rapi, tabel bisa terlihat indah, tapi harga cabai tetap punya pendapat sendiri.