MADIUN, TENDENSIUS – Kisah Kardiman, lansia warga Desa Kebonagung, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, terus memantik perhatian publik. Setelah sebelumnya muncul perdebatan mengenai status desil dan akses bantuan sosial, informasi terbaru dari seorang Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kabupaten Madiun justru memperkuat fakta bahwa Kardiman memang belum pernah menerima bantuan sosial secara langsung.

“Disini kita cek memang belum tersentuh program bantuan sama sekali, trimakasih matur suwun,” ungkap PSM tersebut.

Meski demikian, Kardiman masih tercatat sebagai penerima layanan kesehatan melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) daerah.

“Desil 5 tapi BPJS-nya aktif dapat dari PBI daerah,” tambahnya.

Temuan itu memunculkan pertanyaan baru, bukan lagi soal status data, melainkan sejauh mana pemerintah desa mampu menghadirkan semangat kesejahteraan bagi warganya yang paling rentan.

Aktivis LSM Gempur Jawa Timur, Heri Purnomo atau Ndemo, menilai kondisi Kardiman merupakan ironi di tengah visi Kabupaten Madiun yang mengusung semangat Bersahaja (Bersih, Sehat, dan Sejahtera).

“Ini cukup ironi. Masih ada lansia yang hidup sebatang kara, tidak punya penghasilan tetap, menderita stroke, dan sehari-hari bergantung pada belas kasih tetangga,” ujarnya.

Menurut Ndemo, persoalan utama bukan semata bantuan dari pemerintah pusat atau daerah, melainkan bagaimana pemerintah desa mampu menghadirkan kepekaan sosial terhadap warganya sendiri.

“Kalau memang belum masuk bantuan pusat karena faktor data, mestinya ada langkah nyata dari pemerintah desa untuk memastikan warga dalam kondisi seperti ini tidak terabaikan. Jangan sampai visi sejahtera hanya terdengar dalam slogan, tetapi sulit dirasakan oleh warga yang paling membutuhkan,” katanya.

Ia juga menyoroti fenomena yang sering menjadi perbincangan masyarakat terkait penerima bantuan sosial.

“Yang sering terlihat menerima bantuan justru masih sehat, masih punya kendaraan, bahkan bisa datang sendiri mengambil bantuan. Sementara warga yang hidup sendiri dan sakit justru mengaku belum pernah merasakan bantuan serupa. Ini yang perlu dievaluasi bersama,” tambahnya.

Kasus Kardiman menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan sosial tidak hanya diukur dari jumlah program yang dijalankan, tetapi juga dari kemampuan menjangkau warga yang berada dalam kondisi paling rentan. Di tengah berbagai program kesejahteraan yang terus digulirkan, pertanyaan yang muncul sederhana: jika seorang lansia stroke yang hidup sebatang kara masih bergantung pada kepedulian tetangga, sudah sejauh mana semangat “sejahtera” benar-benar hadir di tingkat desa?