Rumah sakit dibangun untuk menyembuhkan. Tetapi ketika ruang sidang mulai dipenuhi cerita tentang dugaan pengondisian lelang, aliran uang, hingga berbagai kesaksian yang saling berkaitan dalam perkara korupsi, publik tentu sulit memisahkan mana yang menjadi urusan pelayanan, mana yang menjadi urusan kekuasaan. Semua itu masih merupakan bagian dari proses pembuktian di pengadilan dan belum menjadi putusan hukum yang berkekuatan tetap.
Ironinya, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya sebuah proyek. Yang dipertaruhkan adalah kepercayaan.
Lelang pada dasarnya dirancang agar setiap peserta memperoleh kesempatan yang sama. Bila kemudian muncul dugaan bahwa pemenang telah “diatur” sejak awal, publik akan bertanya: apakah kompetisi benar-benar berlangsung, atau hanya formalitas yang melengkapi administrasi?
Demikian pula ketika persidangan memunculkan kesaksian mengenai dugaan perpindahan uang. Tugas pengadilan adalah menguji apakah seluruh keterangan itu saling menguatkan dengan alat bukti lain atau justru terpatahkan. Di sanalah kebenaran hukum akan ditentukan, bukan di ruang opini.
Namun ada satu hal yang tak memerlukan putusan hakim untuk dirasakan.
Setiap kali rumah sakit lebih sering menjadi bahan pemberitaan karena perkara hukum daripada inovasi pelayanan, yang ikut dirawat bukan hanya berkas perkara, tetapi juga citra institusi.
Masyarakat tentu berharap rumah sakit dikenal karena keberhasilan menyelamatkan pasien, bukan karena panjangnya daftar pertanyaan yang harus dijawab di ruang sidang.
Karena pelayanan publik memiliki satu modal yang tidak bisa dibeli melalui proyek apa pun: kepercayaan.
Dan kepercayaan itu dibangun dari proses yang transparan, pengelolaan yang akuntabel, serta keberanian menjelaskan setiap pertanyaan publik secara terbuka.
Seyogyanya, rumah sakit semestinya menjadi tempat antre berobat. Bukan tempat antre penjelasan.

