Ada ironi yang lebih menyakitkan daripada lamanya menunggu. Yaitu ketika seseorang sudah menjalani proses, menggantungkan harapan, tetapi kepastian tak kunjung datang.
Dalam pemberitaan media, sejumlah tenaga magang di RSUD dr. Harjono Ponorogo mengaku telah menunggu selama berbulan-bulan, bahkan muncul dugaan adanya pungutan atau “mahar” yang menjadi sorotan. Dugaan tersebut merupakan klaim yang telah diberitakan media dan memerlukan pembuktian sesuai mekanisme hukum maupun klarifikasi dari pihak terkait.
Magang seharusnya menjadi ruang belajar, bukan ruang abu-abu. Tempat orang mengasah kemampuan, bukan mengasah kesabaran tanpa batas. Apalagi bila diiringi kabar yang menimbulkan persepsi bahwa kesempatan bisa dipengaruhi faktor selain kompetensi.
Kalau benar sistem bekerja berdasarkan merit, maka yang dinilai adalah kemampuan. Bukan kemampuan mencari “jalan”, bukan kemampuan membaca arah angin, apalagi kemampuan menebak kapan kepastian datang.
Yang paling mahal bukan uang. Melainkan waktu.
Delapan bulan bagi pencari pengalaman kerja bukan sekadar delapan lembar kalender. Itu adalah delapan bulan menunda rencana hidup, delapan bulan menolak peluang lain, delapan bulan menggantungkan harapan pada sebuah kepastian yang tak kunjung jelas.
Publik tentu berharap seluruh proses rekrutmen, magang, maupun pengembangan SDM di institusi pelayanan publik berjalan transparan, akuntabel, dan dapat dipertanggungjawabkan. Bila muncul dugaan atau keluhan, cara terbaik menjawabnya bukan dengan membiarkan spekulasi berkembang, melainkan melalui penjelasan yang terbuka serta pemeriksaan sesuai aturan.
Karena rumah sakit bukan hanya tempat menyembuhkan pasien. Ia juga seharusnya menjadi tempat tumbuhnya kepercayaan. Jika yang “magang” adalah para pencari pengalaman, jangan sampai yang paling lama berlatih justru… kepastian.

