NGAWI, TENDENSIUS – Sebuah unggahan sederhana tentang pembangunan jembatan di salah satu dusun, Desa Kenongorejo, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, mendadak menjadi perhatian publik. Bukan karena megahnya konstruksi yang dibangun, melainkan karena kolom komentar yang berkembang menjadi ruang diskusi tentang gotong royong, pelayanan publik, hingga peran pemerintah desa.
Unggahan yang beredar di grup Facebook Info Cegatan Ngawi (ICN) memperlihatkan warga bergotong royong membangun jembatan dengan dukungan swadaya masyarakat dan sejumlah donatur. Dalam narasi unggahan disebutkan, pembangunan dilakukan demi memenuhi kebutuhan akses warga yang telah lama diharapkan.
Tak butuh waktu lama, unggahan tersebut dibanjiri ratusan komentar.
Sebagian besar memberikan apresiasi atas kekompakan masyarakat.
Akun Marno TV menulis, “Ini juga dari dana pribadi mas, 100 persen swadaya masyarakat. Matur nuwun….”
Komentar senada disampaikan akun Saia Hening. “Masyarakat e sayuk. Mugi saged manfaat kagem sedayanipun.”
Sementara Giyono menuliskan harapannya. “Mugi lancar, lan viral.”
Namun, pujian itu rupanya hanya satu sisi cerita.
Di sisi lain, kolom komentar berubah menjadi ruang bertanya. Bukan soal bagaimana jembatan dibangun, melainkan mengapa pembangunan itu harus lahir dari swadaya masyarakat.
Akun Hanan Prasetyo Ajie menulis, “Dana swadaya apa tidak nembusi pemerintah desa?”
Masih dari akun yang sama, ia juga berkomentar, “Seyogyanya ada Mas, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan antara pihak pemerintah desa dan warga.”
Akun Tonni Wahyu ikut mempertanyakan, “Lha camatnya apa lurahnya?”
Sementara akun Yusuf Ibnu menulis komentar bernada kritik. “Bagus pejabat Kenongorejo itu gak usah pajak setoran ke pusat ngapain.”
Di tengah ramainya perdebatan, ada pula warganet yang mencoba meredam suasana dengan mengingatkan agar persoalan tersebut tidak menjadi ajang saling menyalahkan.
Fenomena itu dinilai menunjukkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, masyarakat masih memegang teguh budaya gotong royong. Di sisi lain, muncul harapan agar pemerintah tetap hadir dalam memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
Fauzan salaku aktivis, menilai viralnya unggahan tersebut bukan sekadar tentang pembangunan sebuah jembatan.
”Yang viral sebenarnya bukan jembatannya, tetapi pesan yang dibawanya. Ketika masyarakat berbondong-bondong mengangkat batu, di kolom komentar publik justru mengangkat pertanyaan. Dua-duanya sama-sama layak didengar,” ujarnya, Jumat (31/07/2026).
Menurut Fauzan, gotong royong merupakan kekuatan sosial yang patut diapresiasi. Namun, ia mengingatkan agar semangat itu tidak dimaknai sebagai pengganti tanggung jawab pelayanan publik.
”Gotong royong adalah budaya yang harus dirawat. Tetapi pelayanan publik adalah kewajiban yang harus dijalankan. Jangan sampai masyarakat semakin hebat bekerja, sementara pemerintah justru semakin nyaman menjadi penonton. Kalau itu terjadi, yang dibangun bukan hanya jembatan, tetapi juga persepsi bahwa negara boleh hadir belakangan,” jelasnya.
Fauzan menegaskan, kritik yang berkembang di media sosial tidak seharusnya dipandang sebagai bentuk kebencian.
“Kolom komentar hari ini sering menjadi ruang aspirasi yang paling jujur. Ada yang memuji, ada yang mengkritik. Pemerintah tidak perlu alergi. Sebab masyarakat sejatinya tidak sedang mencari siapa yang salah, tetapi ingin mengetahui apakah kebutuhan mereka memang sudah menjadi perhatian dalam perencanaan pembangunan,” ketus Fauzan.
Ia juga menyindir fenomena yang kerap terjadi ketika swadaya masyarakat lebih cepat bergerak dibanding penjelasan dari pemerintah.
”Kalau warga sudah patungan membeli semen, minimal pemerintah jangan sampai terlambat menyumbang penjelasan. Sebab yang paling mahal dalam pelayanan publik bukan hanya anggaran, melainkan kepercayaan masyarakat,” pungkasnya.
Meski demikian, berbagai komentar yang beredar di media sosial tersebut merupakan pendapat masing-masing pengguna akun dan belum dapat dijadikan fakta tanpa adanya verifikasi. Karena itu, pemerintah desa memiliki ruang untuk memberikan klarifikasi agar diskusi publik berkembang berdasarkan informasi yang utuh.
Dikonfirmasi via Whatsapp, Camat Bringin, Supriyadi hanya menjawab singkat.
“Makasih infonya sebagai bahan masukan kami,” tulisnya.
Hingga berita ini diterbitkan, Tendensius masih berupaya menghubungi Kepala Desa Kenongorejo untuk memperoleh konfirmasi mengenai status pembangunan jembatan, sumber pendanaan, perencanaan desa, serta tanggapan atas berbagai komentar masyarakat yang ramai diperbincangkan di grup Facebook ICN.

