NGAWI, TENDENSIUS – Keluhan terkait pelayanan distribusi air bersih PDAM Ngawi ramai diperbincangkan masyarakat setelah unggahan seorang warga di grup media sosial Info Cegatan Ngawi (ICN) menuai puluhan tanggapan dari pelanggan lain yang mengaku mengalami kondisi serupa.
Dalam unggahannya, pemilik akun mengaku pasokan air di wilayah Watualang, Grudo, Ngronggi, hingga Pojok terhenti sejak selepas Subuh hingga malam hari. Ia mempertanyakan minimnya pemberitahuan kepada pelanggan serta distribusi bantuan air bersih yang disebut belum menjangkau seluruh wilayah terdampak.
“Kalau ada perbaikan, warga yang terdampak seharusnya diberi pemberitahuan. Kita juga pelanggan yang membayar, bukan meminta gratis. Dari pagi sampai sekarang air mati, sementara bantuan air bersih disebut hanya menjangkau sebagian wilayah,” tulisnya.
Unggahan tersebut kemudian memancing berbagai komentar dari warga lain yang mengaku mengalami gangguan serupa.
Salah satu warga mengaku terpaksa menggunakan air isi ulang untuk kebutuhan rumah tangga karena aliran PDAM belum normal hingga pagi hari.
“Sampai pagi jam 6 air PDAM masih belum nyala dan terpaksa anak-anak tidak mandi menggunakan air isi ulang,” tulis seorang warganet.
Komentar lain datang dari warga Watualang yang mengaku tidak memperoleh bantuan air bersih meskipun terdampak gangguan distribusi.
“Saya Watualang tapi tidak dapat bantuan air. Kebetulan jualan matang juga kesulitan karena harus membeli air isi ulang,” tulis akun lainnya.
Sejumlah pelanggan juga mengeluhkan sulitnya memperoleh informasi dari saluran layanan yang tersedia.
“Dari pagi sampai malam tidak ada pemberitahuan, tidak ada bantuan air bersih, dan kepastian kapan nyalanya juga tidak ada,” tulis seorang pelanggan.
Keluhan serupa muncul dari warga lain yang mengaku telah mencoba menghubungi layanan pelanggan melalui telepon maupun WhatsApp namun belum memperoleh respons sesuai harapan.
Ramainya keluhan masyarakat tersebut mendapat perhatian Aktivis Gempur DPD Jawa Timur, M. Fauzan, yang menilai persoalan utama bukan semata gangguan teknis distribusi air, melainkan komunikasi pelayanan kepada pelanggan.
Menurut Fauzan, masyarakat pada dasarnya dapat memahami apabila terjadi kerusakan jaringan atau pekerjaan perbaikan. Namun pelanggan berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai penyebab gangguan dan estimasi waktu normalisasi.
“Masyarakat tidak menuntut air mengalir lebih deras dari sungai. Mereka hanya berharap ketika keran berhenti mengalir, informasi jangan ikut macet. Sebab pelanggan membayar rekening setiap bulan, bukan berlangganan ketidakpastian,” sindir Fauzan.
Ia juga menyoroti laporan warga mengenai distribusi bantuan air bersih yang dinilai belum merata.
“Kalau bantuan air hanya terlihat di sebagian titik, sementara pelanggan lain yang sama-sama terdampak masih menunggu, maka yang mengalir justru pertanyaan masyarakat. Bantuan seharusnya menjangkau seluruh wilayah yang benar-benar membutuhkan,” ujarnya.
Fauzan menambahkan bahwa di era digital saat ini, perusahaan pelayanan publik semestinya memiliki sistem informasi yang mampu menjangkau pelanggan secara cepat ketika terjadi gangguan layanan.
“Hari ini masyarakat bisa mengetahui posisi paket belanja secara real time. Jangan sampai pelanggan PDAM justru tidak mengetahui kapan air akan kembali mengalir. Teknologi sudah modern, pelayanan informasinya jangan sampai masih berjalan seperti mencari sumber air saat musim kemarau,” katanya.
Ia berharap PDAM Ngawi segera memberikan penjelasan resmi terkait penyebab gangguan, wilayah terdampak, distribusi bantuan air bersih, serta langkah evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.
Hingga informasi ini dihimpun, keluhan warga masih menjadi perbincangan aktif di media sosial, sementara masyarakat menunggu penjelasan resmi dari pihak PDAM terkait gangguan layanan tersebut.

