Tendensius.com, Madiun – Polemik tagihan air rumah kosong yang sempat viral di media sosial kembali memunculkan babak baru. Pengunggah postingan mengaku telah dipertemukan langsung dengan petugas kontrol PDAM wilayah Sidorejo setelah keluhannya ramai diperbincangkan warganet.

Dalam keterangannya, warga tersebut mengaku mendapat penjelasan bahwa petugas yang melakukan pengecekan meteran masih tergolong baru bekerja sekitar dua bulan. Namun yang menjadi sorotan, cara pengecekan disebut tidak benar-benar melihat angka meteran secara langsung.

“Tadi saya sudah dipertemukan sama bagian kontrol PDAM Sidorejo. Ternyata anak baru dua bulan kerja dan cara ngeceknya itu gak lihat meteran, cuma dikira-kira,” tulis pengunggah dalam komentar, Selasa (12/05/2026).

Ia juga menyebut kondisi meteran berada di luar rumah dan dapat diakses dengan mudah karena tidak tertutup apapun. Karena itu, warga merasa kekeliruan tagihan bukan berasal dari pelanggan.

“Meteran di luar gak ada tutup apapun. Jadi yang salah tetap bagian kontrol PDAM Sidorejo,” lanjutnya.

Nada kekesalan makin terasa ketika warga menyindir metode pencatatan yang dianggap tidak profesional.

“Cara kerjanya itu kayak dukun, kira-kira aja,” tulisnya lagi.

Meski begitu, persoalan tagihan disebut belum sepenuhnya selesai. Warga mengaku hanya bersedia membayar sebagian dari total tagihan Rp225 ribu karena merasa bukan pihak yang melakukan kesalahan pencatatan.

“Yang bulan ini tagihan Rp225 ribu itu kalau disuruh bayar semuanya gak mau, karena bukan kesalahan saya. Jadi sama kepalanya saya suruh bayar Rp75 ribu, sisanya yang kontrol,” ungkapnya.

Namun hingga kini, menurut pengunggah, belum ada kepastian kapan sisa tagihan tersebut akan diselesaikan oleh pihak terkait.

Sementara itu, Kepala Cabang PDAM Wungu, Sapari, memberikan respons singkat atas polemik yang ramai di media sosial tersebut.

“Semoga bisa menjadi evaluasi untuk bisa berbenah lebih baik bagi kami dalam memberi pelayanan kepada masyarakat. Semoga tidak terulang,” ujarnya.

Kasus ini pun memantik berbagai komentar warganet. Di tengah tuntutan pelayanan publik yang makin transparan dan akurat, metode pencatatan berbasis “perkiraan” menjadi sorotan tersendiri. Sebab bagi pelanggan, tagihan air bukan perkara tebak-tebakan, melainkan angka yang harus bisa dipertanggungjawabkan.