Tumpukan sampah terlihat meluber di area TPS Pasar Sayur Caruban, tepatnya di Kelurahan Bangunsari, Kecamatan Mejayan, Kabupaten Madiun. Kondisi ini terjadi meski di lokasi telah terpasang plang peringatan agar masyarakat membuang sampah ke dalam kontainer.
Fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Dua kontainer yang tersedia sudah penuh hingga meluber, memaksa sampah berserakan di sekitarnya.
Warga sekitar, HD, mengaku kondisi tersebut sudah berlangsung beberapa hari tanpa penanganan.
“Sudah berhari-hari itu Pak nggak diangkut,” ujarnya, Minggu (03/05/2026).
Ia juga menyoroti ironi antara imbauan dan realitas di lapangan.
“Plang peringatan ada, lha itu kontainer penuh, terus mau dibuang ke mana?” lanjutnya.
Menurutnya, penumpukan sampah ini bukan sekadar persoalan estetika, melainkan berpotensi menimbulkan dampak serius.
“Penumpukan sampah jelas berdampak. Bau busuk, pencemaran lingkungan, dan jadi sarang penyakit,” tambahnya.
Kondisi ini diperparah dengan informasi bahwa TPS Pasar Sayur serta TPA Kaliabu saat ini sudah tidak dapat digunakan lagi. Hal tersebut diduga menjadi salah satu penyebab tersendatnya alur pengangkutan dan pembuangan akhir sampah.
Tanpa dukungan fasilitas hulu hilir yang memadai, kontainer di lapangan menjadi titik akhir sementara yang akhirnya meluber ke area publik.
Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Madiun, Zahrowi, belum memberikan tanggapan atas konfirmasi yang dilayangkan jurnalis.
Kondisi ini menjadi sorotan di tengah visi daerah “Bersahaja” (Bersih, Sehat, Sejahtera) yang digaungkan Pemerintah Kabupaten Madiun. Di satu sisi, slogan kebersihan terus dikampanyekan. Di sisi lain, tumpukan sampah di pusat aktivitas masyarakat justru menjadi pemandangan harian.
Jika imbauan sudah terpasang, tetapi fasilitas tak memadai dan pengangkutan tersendat, maka persoalannya bukan lagi sekadar kedisiplinan warga, melainkan kesiapan sistem pengelolaan sampah secara menyeluruh.

