Setiap musim wisuda, aula kampus penuh tepuk tangan. Toga dilempar ke udara, kamera sibuk merekam senyum masa depan. Orang tua bangga, keluarga bahagia, tetangga ikut memuji. Namun beberapa bulan kemudian, yang dilempar bukan lagi toga, melainkan lamaran kerja ke mana-mana.

Indonesia tampaknya sukses memproduksi sarjana. Sayangnya, pasar kerja belum tentu ikut wisuda. Ribuan lulusan baru datang membawa ijazah, sementara lowongan kerja datang membawa syarat: pengalaman minimal dua tahun, usia maksimal muda sekali, dan siap multitugas dengan gaji yang cukup untuk bertahan hidup sambil berhemat.

Akhirnya banyak sarjana belajar ilmu baru setelah lulus: cara mempercantik CV, teknik menjawab “ceritakan tentang diri Anda”, serta seni menunggu panggilan yang tak kunjung datang.

Di satu sisi, kampus bangga meluluskan mahasiswa tepat waktu. Di sisi lain, lulusan belajar bahwa tepat waktu belum tentu tepat guna. Sebab dunia kerja kini bukan hanya soal nilai IPK, tetapi juga relasi, keterampilan praktis, sertifikat tambahan, dan kadang keberuntungan.

Program magang menjadi harapan. Tetapi jika aksesnya terbatas, maka yang terjadi hanya perpindahan antrean: dari antre wisuda ke antre kesempatan.

Tentu ini bukan salah gelar sarjana. Ijazah tetap penting. Namun jika pertumbuhan lulusan tidak dibarengi pertumbuhan pekerjaan, maka negara sedang mencetak harapan lebih cepat daripada menyediakan ruangnya.

Barangkali ke depan, selain wisuda, kampus perlu menyiapkan satu acara tambahan: pelatihan bertahan menghadapi realitas.

Karena di negeri ini, kadang yang paling berat bukan skripsi, melainkan fase setelah tanda tangan dosen penguji.