Tendensius.com, Madiun – Keluhan terhadap Perumda Tirta Dharma Purabaya atau PDAM Kabupaten Madiun kembali mencuat di media sosial. Seorang akun Facebook bernama “هارني” mengunggah dugaan ketidaksesuaian tagihan air rumah kosong di Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun.

Dalam unggahannya, akun tersebut menyebut tagihan air bulan April 2026 dinilai tidak masuk akal lantaran rumah yang disebut tidak berpenghuni justru tercatat mengalami pemakaian hingga 63 meter kubik.

Pengunggah menjelaskan, angka meter bulan Maret berada di posisi 3393, sementara April tercatat 3395. Namun pada lembar tagihan muncul pemakaian sebesar 63 meter kubik dengan rincian biaya Rp222.850 dan administrasi Rp2.500, sehingga total tagihan mencapai Rp225.350.

Unggahan tersebut sontak memicu perhatian warganet dan dibanjiri ratusan komentar yang sebagian besar membagikan pengalaman serupa terkait lonjakan tagihan air.

Akun Facebook bernama Yoe Di menyarankan pelanggan menutup kran utama sebelum meteran untuk memastikan ada atau tidaknya perubahan angka meter saat rumah kosong.

“Sementara ditutup kran penutup air masuk sebelum meteran selama 1 bulan utk mengetahui perubahan angka meteran, kalau rumahnya kosong,” tulisnya.

Warganet lain, Mujtahidah, meminta pelanggan mendokumentasikan angka meter dan membawa bukti tagihan ke kantor pengaduan PDAM Kabupaten di Caruban.

“Tolong foto stand meter di rumah, catat angkanya atau video, lalu cocokkan dengan data di komputer,” tulisnya.

Sementara akun Kos Madiun mengaku pernah mengalami tagihan tinggi meski rumah kosong hingga akhirnya memilih menggunakan sumur pribadi.

“Itu kayak PDAM punyaku dulu, rumah padahal kosong bayar Rp150 ribu. Akhire tak putus, bikin sumur,” tulis akun tersebut.

Komentar lain datang dari Titis Wuriani yang mengaku beberapa kali mengalami tagihan membengkak akibat dugaan kesalahan pengecekan meter oleh petugas.

“Katanya petugas baru, akhirnya pembayaran yang salah dikurangi untuk bulan depan,” tulisnya.

Namun sebagian warganet juga menduga lonjakan tagihan bisa dipicu kebocoran instalasi pipa di dalam rumah. Akun Ifnu Adham menyebut tagihan besar dapat terjadi apabila ada saluran bocor meski rumah tidak dihuni.

Dikonfirmasi terkait keluhan yang viral di media sosial tersebut, Direktur Perumda Tirta Dharma Purabaya, Imansyah Novianto memberikan tanggapan singkat.

“Ok siap. Akan segera jadi bahan evaluasi dan perbaikan. Thanks infonya,” ujarnya kepada jurnalis,” Minggu (10/05/2026).

Di tengah derasnya komentar warganet, persoalan ini bukan lagi sekadar angka tagihan, melainkan soal kepercayaan pelanggan terhadap akurasi layanan publik. Ketika rumah kosong bisa tercatat mengonsumsi puluhan meter kubik air, publik tentu berharap evaluasi tidak berhenti pada permintaan maaf atau jawaban singkat semata. Sebab bagi pelanggan, yang paling dibutuhkan bukan hanya penjelasan, melainkan kepastian bahwa setiap tetes air yang ditagihkan benar-benar sesuai dengan pemakaian di lapangan.