Tendensius.com, Pacitan – Di tengah zaman ketika jempol bekerja lebih cepat daripada pikiran, buku perlahan dipaksa bersaing dengan layar gawai, notifikasi media sosial, dan banjir konten berdurasi 15 detik. Namun di balik derasnya arus digital itu, masih ada keyakinan bahwa lembar demi lembar buku belum kehilangan kekuatannya untuk mengubah masa depan.
Momentum Hari Buku Nasional dan Hari Ulang Tahun ke-46 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang diperingati Minggu, 17 Mei 2026, menjadi pengingat bahwa bangsa besar tidak hanya dibangun oleh infrastruktur dan teknologi, tetapi juga oleh budaya membaca yang terus hidup.
Mengusung tema “Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa”, peringatan tahun ini diperkuat dengan kampanye “Buku Menyalakan Masa Depan” serta pesan sederhana namun tajam: “Satu Buku, Satu Perubahan.”
Di saat sebagian orang mulai menganggap perpustakaan hanya tempat rak-rak tua yang sepi pengunjung, dunia pendidikan justru didorong untuk menghidupkan kembali semangat literasi sebagai gerakan peradaban.
Kepala SMKN 1 Donorojo Pacitan, Achmad Syaifudin, S.Pd., M.Pd., menilai peringatan Hari Buku Nasional bukan sekadar agenda seremonial tahunan yang dipenuhi slogan dan spanduk motivasi.
Menurutnya, literasi adalah pondasi utama dalam membentuk generasi yang kritis, kreatif, dan mampu bersaing di tengah perubahan zaman yang begitu cepat.
“Tema Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa mengingatkan kita bahwa buku bukan sekadar kumpulan halaman, tetapi jendela pengetahuan yang membentuk karakter dan masa depan bangsa,” ujarnya, Selasa (19/05/2026).
Ia menambahkan, tantangan terbesar saat ini bukan sekadar kurangnya akses buku, melainkan menurunnya minat membaca akibat budaya instan yang makin mengakar.
Di era ketika banyak orang lebih sibuk menggulir layar daripada membuka halaman buku, sekolah dituntut hadir bukan hanya sebagai tempat belajar formal, tetapi juga benteng terakhir budaya literasi.
“Kampanye Buku Menyalakan Masa Depan dan pesan Satu Buku, Satu Perubahan sangat relevan bagi pelajar. Satu buku bisa mengubah cara pandang seseorang, bahkan menentukan arah hidupnya,” tambahnya.
Baginya, perpustakaan sekolah tidak boleh hanya menjadi ruangan sunyi penuh debu dan buku yang jarang disentuh. Perpustakaan harus hidup menjadi pusat kreativitas, ruang diskusi, sekaligus tempat lahirnya gagasan-gagasan baru.
Di tengah dunia yang semakin bising oleh informasi cepat dan opini singkat, buku mungkin memang kalah viral. Tetapi sejarah selalu membuktikan, perubahan besar hampir selalu dimulai dari seseorang yang mau membaca lebih dalam daripada sekadar judul dan komentar.

