Di tanah yang sejak lama dikenal sebagai rahim pencak silat Nusantara, sebuah babak baru sejarah sosial dan budaya kembali ditulis. Selasa, 3 Februari 2026, Gedung Kesenian dan Olahraga Desa Teguhan, Kecamatan Jiwan, menjadi saksi bagaimana Kabupaten Madiun meneguhkan jalan persatuan melalui Sarasehan Kampung Pesilat.
Di bawah kepemimpinan Bupati Madiun Hari Wuryanto, pencak silat tidak lagi sekadar tradisi yang diwariskan, tetapi menjadi energi kolektif yang menggerakkan persaudaraan, menjaga harmoni, dan menata arah pembangunan. Implementasi Peraturan Bupati Madiun Nomor 48 Tahun 2025 tentang Kabupaten Madiun Kampung Pesilat Indonesia hadir sebagai ikhtiar besar untuk menjadikan budaya sebagai fondasi masa depan daerah.
Sarasehan ini dihadiri Bupati Madiun Hari Wuryanto, Kepala Bakesbangpol Hestu Wiradriawan, Camat Jiwan Puguh Wijayanto, unsur Forkopimcam, kepala desa se-Kecamatan Jiwan, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta perwakilan perguruan silat PSHT, PSHW, Kera Sakti, dan Pandan Alas.
Teguhan, Titik Awal Sebuah Ikhtiar
Desa Teguhan dipilih sebagai titik awal sosialisasi Kampung Pesilat, sebuah simbol bahwa persatuan lahir dari desa, dari akar kehidupan masyarakat. Kepala Desa Teguhan, Abdullah Al Baiti, mengungkapkan rasa bangganya.
“Suatu kebanggaan menjadi tuan rumah, pertama kali di Kabupaten Madiun sosialisasi perbup kampung pesilat. Di Desa Teguhan sendiri saat ini hanya ada satu Perguruan pencak,” ujarnya.
Di balik pernyataan itu, tersirat pesan bahwa Kampung Pesilat bukan soal jumlah perguruan, melainkan soal semangat kebersamaan.
Kepemimpinan yang Menghidupkan Nilai
Di tempat yang sama, Camat Jiwan, Puguh Wijayanto, menegaskan bahwa sarasehan ini adalah langkah strategis dalam menghidupkan kebijakan daerah.
“Ini merupakan optimalisasi dalam rangka implementasi perbup madiun nomor 48 tahun 2025 tentang kabupaten Madiun kampung pesilat Indonesia,” terang Camat.
Di tangan kepemimpinan Hari Wuryanto, regulasi tidak berhenti sebagai teks hukum, tetapi menjelma menjadi gerakan sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Silat sebagai Bahasa Persatuan
Sementara itu, Bupati Madiun Hari Wuryanto menegaskan bahwa Kecamatan Jiwan menjadi titik awal sosialisasi Kampung Pesilat.
“Kecamatan Jiwan ini sosialisasi pertama. Madiun merupakan pusat Perguruan pencak silat yang tersebar di seluruh Indonesia sehingga kita gunakan sebagai icon kabupaten Madiun,” tegas Bupati.
Dalam pandangan kepemimpinan Hari Wuryanto, silat bukan sekadar seni bela diri, melainkan bahasa persatuan yang melampaui sekat perguruan, generasi, dan kepentingan.
Dari Harmoni Menuju Harapan
Lebih dari sekadar stabilitas sosial, Bupati Madiun memandang persatuan sebagai fondasi masa depan ekonomi dan kepercayaan publik.
“Kabupaten Madiun menjadi role model nasional dalam menjaga kerukunan dan keguyuban para pesilat. Semuanya bersinergi, menjaga kondusifitas karena sejatinya keamanan adalah tanggung jawab bersama, bukan polisi dan TNI saja. Jika Kabupaten Madiun aman dan kondusif, orang yang akan berinvestasi di Madiun semakin banyak,” pungkasnya.
Kalimat itu bukan hanya harapan, tetapi manifesto kepemimpinan: bahwa daerah yang rukun adalah daerah yang maju.
Menulis Sejarah dari Jiwan
Sarasehan Kampung Pesilat di Kecamatan Jiwan bukan sekadar agenda seremonial. Ia adalah peristiwa kultural, sosial, dan politik dalam arti yang paling luhur. Di sanalah nilai persaudaraan dirawat, identitas diteguhkan, dan masa depan dirancang.
Di bawah kepemimpinan Hari Wuryanto, Kabupaten Madiun tidak hanya menjaga warisan pencak silat, tetapi mengangkatnya menjadi fondasi peradaban daerah. Dari Jiwan, Madiun mengirim pesan kepada Indonesia: bahwa persatuan tidak lahir dari keseragaman, tetapi dari kesadaran untuk berjalan bersama.



