Duka yang kembali menyelimuti Desa Tulung, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, memantik kegelisahan warga sekitar bekas galian C yang selama bertahun-tahun dibiarkan menganga.

Warga menilai tragedi yang merenggut nyawa bocah 4 tahun pada Selasa (14/4/2026) seharusnya menjadi alarm keras bagi pihak terkait untuk segera mengambil langkah nyata.

Maridi, salah satu warga Desa Tulung, mengungkapkan bahwa insiden tersebut bukan kejadian pertama. Ia menyebut masyarakat sudah berulang kali menyampaikan kekhawatiran tentang bahaya lubang bekas tambang yang dibiarkan tanpa reklamasi.

Menurutnya, warga telah lama meminta agar lokasi tersebut segera ditutup atau diratakan karena berpotensi membahayakan, terutama bagi anak-anak yang sering bermain di sekitar area tersebut.

“Sudah dua kali memakan korban jiwa. Kami minta segera ditutup, diratakan, dan diuruk agar tidak membahayakan lagi,” tegas Maridi.

Ia menuturkan, permintaan itu sebenarnya sudah disampaikan sejak lama, namun hingga kini belum terlihat adanya langkah konkret untuk menutup atau menormalisasi bekas galian tersebut.

“Sudah dua kali makan korban, semuanya anak-anak. Sampai sekarang belum ada tanda-tanda akan diuruk,” ujarnya dengan nada prihatin.

Warga khawatir, selama lubang bekas tambang itu masih dibiarkan terbuka dan tergenang air, potensi kecelakaan serupa akan terus mengintai.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait segera mengambil tindakan nyata, mulai dari menutup lubang galian hingga melakukan reklamasi agar lahan tersebut kembali aman dan tidak lagi menjadi ancaman bagi warga sekitar.

“Jangan sampai harus ada korban lagi baru benar-benar ditangani,” tambahnya.

Peristiwa berulang di lokasi yang sama ini kini kembali menjadi sorotan warga, yang berharap tragedi terbaru menjadi titik akhir dari kelalaian panjang terhadap bekas tambang yang tak kunjung direklamasi.