Dampak ledakan populasi lalat yang diduga berasal dari peternakan ayam broiler di Dusun Ngrobyong, Desa Purworejo, Kecamatan Geger meluas hingga lintas wilayah. Warga Desa Kepet, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun mengaku gangguan tersebut telah berlangsung sekitar dua pekan terakhir tanpa penanganan yang signifikan.

Pantauan tim tendensius, menunjukkan lalat masih mendominasi area permukiman hingga tempat usaha warga.

Tak hanya satu titik, dampak dirasakan di tiga dusun sekaligus, yakni Dusun Kepet, Kayang, dan Purwojati. Kondisi ini memperluas skala persoalan, dari semula lokal menjadi lintas dusun bahkan lintas kecamatan.

“Banyak pelanggan mengeluh, lalat sampai memenuhi meja. Pernah dikomplain tapi gak ada tindak lanjut,” ujar pemilik warung kopi setempat, Sabtu (02/05/2026).

Puluhan lalat di meja warung membuat pembeli tak nyaman

Hasil penelusuran menunjukkan sumber lalat diduga berasal dari dua kandang ayam broiler yang berada di Dusun Ngrobyong, Desa Purworejo, Kecamatan Geger. Artinya, lokasi sumber dan wilayah terdampak sudah berada di dua kecamatan berbeda.

Kondisi di kandang memperlihatkan kotoran ayam yang masih basah dan menumpuk. Padahal ayam telah dipanen habis. Situasi ini dinilai menjadi faktor utama berkembangnya lalat.

YN, Seorang pencari rumput menyebut perubahan sistem kandang menjadi salah satu pemicu.

“Dulu pakai sekam, lalat tidak separah ini. Sekarang kandangnya model susun, lalatnya meledak,” ungkapnya.

Potret sisa kotoran ayam yang lembab di dasar kandang

Tak jauh dari lokasi, terdapat kandang lain dengan dampak yang tidak separah. Perbedaan sistem dan pengelolaan dinilai memengaruhi tingkat populasi lalat. Padahal, kedua kandang tersebut merupakan satu pemilik.

Kandang dengan sistem susun dan kapasitas besar dinilai menghasilkan limbah lebih banyak, sementara kandang dengan alas sekam terlihat lebih kering dan relatif terkendali.

Meluasnya dampak hingga lintas desa dan kecamatan memunculkan pertanyaan di masyarakat terkait efektivitas pengelolaan limbah peternakan.

KDN, Warga terdampak menilai, tanpa penanganan menyeluruh di sumbernya, gangguan lalat akan terus berulang dan meluas.

“Kalau sumbernya tidak dibenahi, ya lalat akan terus datang. Dan ini bisa dipastikan setiap panen,” keluhnya.

Hingga saat ini, belum ada keterangan resmi dari pengelola kandang terkait langkah penanganan lanjutan atas persoalan tersebut. Upaya konfirmasi jurnalis, tak direspon sama sekali.