MADIUN, TENDENSIUS – Di tengah rangkaian peringatan Hari Jadi Kabupaten Madiun ke-458 dan Hari Kesatuan Gerak PKK Tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun memilih menghadirkan perayaan dengan wajah yang lebih membumi. Bukan sekadar seremonial, tetapi pelayanan langsung bagi masyarakat melalui kegiatan khitan massal gratis yang digelar di RSUD Dolopo, RSUD Caruban, dan Joglo Desa Sendangrejo.

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan (Yankes) Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun, dr. Widya Wardani, menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian pemerintah daerah terhadap masyarakat, khususnya keluarga yang membutuhkan.

“Khitan massal ini merupakan salah satu rangkaian Hari Jadi Kabupaten Madiun ke-458 dan Hari Kesatuan Gerak PKK Tahun 2026. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian Pemerintah Kabupaten Madiun kepada masyarakat, terutama dalam membantu keluarga kurang mampu sekaligus meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,” ujar dr. Widya, Selasa (23/06/2026).

Menurutnya, pelaksanaan khitan massal tahun ini dipusatkan di tiga lokasi dengan melibatkan tenaga medis dari fasilitas kesehatan daerah, sehingga pelayanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Kami berharap kegiatan ini tidak hanya meringankan beban masyarakat dari sisi ekonomi, tetapi juga menjadi sarana edukasi pentingnya menjaga kesehatan sejak dini,” tambahnya.

Pengabdian dari Selatan hingga Utara Kabupaten

Di RSUD Dolopo, sebanyak 136 anak dari enam kecamatan mengikuti khitan massal yang dilaksanakan di bawah koordinasi Plh Direktur RSUD Dolopo, dr. Dewi Majasari.

Peserta khitan massal di RSUD Dolopo menanti giliran

Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut didasarkan pada DPA-SKPD Tahun Anggaran 2026 dan menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

“Pelaksanaan khitanan massal ini merupakan wujud kepedulian Pemerintah Kabupaten Madiun dalam membantu masyarakat, terutama masyarakat kurang mampu demi terwujudnya peningkatan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,” kata dr. Dewi.

Sebanyak tiga dokter spesialis, tiga dokter umum, serta 44 perawat dan tenaga paramedis diterjunkan untuk memberikan pelayanan kepada peserta yang berasal dari Kecamatan Dolopo, Kebonsari, Dagangan, Geger, Kare, dan Jiwan.

Selain layanan medis, setiap peserta juga memperoleh baju muslim, sarung, kopiah, perlengkapan sekolah, serta uang saku.

Di Sendangrejo, khitan massal diikuti 65 peserta. Sementara di Gedung Anggrek RSUD Caruban, sebanyak 100 anak mengikuti khitan massal yang dipimpin Direktur RSUD Caruban, dr. Farid Amirudin.

Menurut Farid, kegiatan tersebut menjadi ikhtiar membantu masyarakat kurang mampu sekaligus menjaga kesehatan anak-anak.

“Tujuannya membantu masyarakat, terutama yang tidak mampu untuk melaksanakan sunah rasul sekaligus demi kesehatannya. Karena bila tidak dikhitan, dapat menjadi tempat berkembangnya kuman yang berpotensi menimbulkan infeksi,” jelas Farid.

Ia menyebut peserta terbanyak berasal dari wilayah utara Kabupaten Madiun, khususnya Kecamatan Mejayan dan Balerejo. Setiap peserta juga mendapatkan baju koko, sarung, kopiah, tas dan uang saku.

Pemkab Ingin Pelayanan Dirasakan Semua Wilayah

Wakil Bupati Madiun dr. Purnomo Hadi mengatakan khitan massal di tiga titik merupakan bagian dari semangat pemerataan pelayanan kepada masyarakat.

“Ini adalah rangkaian Hari Jadi Kabupaten Madiun. Prinsipnya, pemerintah ingin semua wilayah merasakan kehadiran pelayanan yang diberikan Pemkab Madiun,” ujarnya.

Ia menegaskan, secara agama maupun medis, khitan memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan.

“Secara agama sudah jelas, secara medis juga sudah jelas. Oleh sebab itu kegiatan seperti ini penting dan harus terus dilaksanakan demi kesehatan generasi muda,” ungkapnya.

Di tengah berbagai tantangan pelayanan kesehatan, Dinas Kesehatan Kabupaten Madiun bersama RSUD Dolopo dan RSUD Caruban memilih menjadikan momentum hari jadi daerah bukan sekadar panggung seremoni, melainkan ruang pengabdian. Sebab bagi mereka, perayaan yang paling bermakna bukanlah gemerlap panggung, melainkan ketika ratusan anak pulang membawa senyum, kesehatan, dan harapan baru.

Dan mungkin, di situlah makna “Bersahaja” menemukan bentuk paling sederhana: hadir dan melayani.